DataSumut.com – Medan
Hari kedua kegiatan Re-Posisi Zikir Sungai Deli di Sanggar Anak Sungai Deli (SASUDE), Jalan Brigjen Katamso, Gang Kesatria, Medan, Sabtu (20/6), berlangsung semarak. Beragam agenda disuguhkan kepada masyarakat, mulai dari peluncuran buku, diskusi budaya, penampilan musik dan tari, hingga pertunjukan teater kontemporer di atas panggung terapung di Sungai Deli.
Salah satu agenda yang menarik perhatian, peluncuran buku “Gado-Gado Hafiz Taadi: Jejak Kesenian 43 Tahun”. Buku tersebut memuat catatan perjalanan Hafiz Taadi selama lebih dari empat dekade berkesenian, kumpulan tulisan yang pernah dipublikasikan di berbagai media, dokumentasi pertunjukan, hingga rekam jejak berbagai aktivitas kebudayaan yang pernah dilakoninya.
Dalam kesempatan itu, Hafiz Taadi mengatakan, buku itu tidak semata-mata diterbitkan sebagai dokumentasi perjalanan pribadi, melainkan sebagai upaya berbagi pengalaman kepada generasi muda yang ingin menekuni dunia kesenian.
“Tujuan membukukan perjalanan ini bukan hanya untuk kenangan. Saya berharap pengalaman yang tertulis di dalamnya bisa menjadi pemicu semangat generasi muda untuk berkesenian. Menjadi seniman tidak melulu soal seni, tetapi juga bagaimana membangun karakter, cara berpikir dan jati diri dalam menjalani kehidupan,” ujarnya.
Selain peluncuran buku, kegiatan juga diisi dengan diskusi yang menghadirkan Sultan Deli XIV, Tuanku Sultan Mahmud Lamanjiji Perkasa Alam dan Founder Sanggar Anak Sungai Deli (SASUDE), Lukman Hakim Siagian.
Dalam pemaparannya, Sultan Deli menegaskan bahwa Sungai Deli memiliki hubungan yang sangat erat dengan sejarah dan perkembangan peradaban di kawasan Medan dan sekitarnya. Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk turut menjaga lingkungan sekaligus melestarikan nilai-nilai budaya warisan leluhur yang tumbuh bersama sungai.
“Sungai Deli tidak bisa dipisahkan dari sejarah. Dahulu kita hampir tidak pernah mendengar Sungai Deli banjir seperti sekarang. Itu karena para leluhur sangat peduli terhadap lingkungan dan menjaga alam dengan baik. Semangat itulah yang perlu kita hidupkan kembali,” katanya.
Lukman Hakim Siagian menjelaskan, SASUDE selama sembilan tahun terakhir terus berupaya menjaga lingkungan Sungai Deli sembari mengajak masyarakat sekitar terlibat dalam berbagai aktivitas seni dan edukasi.
Menurutnya, sungai tidak seharusnya dipandang sebagai ruang belakang yang diabaikan, melainkan ruang bersama yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan positif.
“Selama sembilan tahun kami berupaya menghadirkan aktivitas kesenian dan edukasi di kawasan Sungai Deli. Sungai yang kondisinya seperti sekarang saja masih bisa dimanfaatkan untuk kegiatan yang bermanfaat, apalagi jika suatu saat benar-benar bersih dan terawat. Karena itu kami mengajak masyarakat untuk kembali peka dan peduli terhadap lingkungan,” ujarnya.
Puncak kegiatan berlangsung pada malam hari melalui pertunjukan teater kontemporer berjudul “Ibu Air Mata Sungai” dipentaskan di atas panggung terapung di Sungai Deli. Belasan pemain menghadirkan pertunjukan yang ekspresif, emosional, dan sarat renungan tentang hubungan manusia dengan alam serta kondisi sungai yang kian terdesak oleh berbagai persoalan lingkungan.
Pertunjukan tersebut mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Warga tampak memadati area pertunjukan sejak sore hingga malam hari. Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa dari berbagai latar belakang berkumpul di tepian sungai untuk menyaksikan rangkaian acara.
Salah seorang warga, Yusuf, mengaku senang dengan penyelenggaraan kegiatan itu. Menurutnya, kegiatan seni seperti ini jarang berlangsung di kawasan bantaran Sungai Deli.
“Jarang ada keramaian seperti ini di pinggir Sungai Deli, apalagi kegiatan kesenian. Kami bisa menikmati pertunjukan dan berkumpul bersama warga lainnya di tengah berbagai tantangan hidup di kawasan bantaran sungai,” katanya.
Kegiatan Re-Posisi Zikir Sungai Deli yang mendapat dukungan Dana Indonesiana ini tidak hanya menjadi ruang pertunjukan seni, tetapi juga ruang pertemuan gagasan, refleksi budaya, serta ajakan bersama untuk kembali menaruh perhatian terhadap Sungai Deli sebagai bagian penting dari sejarah, lingkungan, dan kehidupan masyarakat Kota Medan.
(DSc-01)

More Stories
Robi Barus : Setiap Warga Negara Wajib Miliki Wawasan Kebangsaan
Seniman Taman Budaya Medan Dapat Daging Kurban dari PWI Sumut
PWI Sumut Sembelih 6 Hewan Kurban di Idul Adha 1447H