DataSumut.com – Medan
Sebuah pagelaran tari persembahan Sanggar Pilago, tampilkan sebuah tari dinamis. Tari itu digarap oleh koreografer Martozet, S.Sn., M.A., seorang dosen tari dari UNIMED dengan sangat baik. Dipentaskan di gedung utama Taman Budaya Medan, (13/5/2026), pertunjukan berkisar 25 menit terasa demikian singkat.
Adat istiadat Minangkabau, hubungan Mamak dan Keponakan demikian kuat. Masa kini hubungan itu tetap ada walau terasa sedikit merenggang akibat tuntutan zaman. Anak dipangku, keponakan di bimbiang (bimbing) terasa tinggal hanya di bibir saja. Hubungan keponakan dan mamak terasa ada garis pembatasan, walau tidak semua orang Minang demikian.
Terutama di perantauan kota-kota besar, renggangnya hubungan mamak dan keponakan terasa cukup jauh, terlebih dipisahkan oleh jarak tempat tinggal.
Martozet, dengan sukses berhasil menggambarkannya lewat tari yang dia garap dengan gerak gerak besar, dinamis tidak meninggalkan unsur gerak-gerak tari Minang.
Martozet alumni ISI Jogjakarta, kemudian hijrah ke Medan dan menyatu dengan semua seniman di Taman Budaya Medan. Martozet bergaul dengan orang teater dan seniman lainnya dan mampu menyerap disiplin dari berbagai cabang seni khususnya tari dan teater. Martozet ditempat bersama teman temannya bertahun tahun di taman budaya Medan, sebelum menjadi dosen di UNIMED.
Garapannya kali ini, cukup memukau penonton, walau penontonnya kali ini hanya sepertiga dari pertunjukan sebelumnya pada 6 Mei lalu di tempat yang sama.
Pergantian adegan dari satu adegan dan dari satu reportoar yang satu ke repertoar lainnya, hanya memakan waktu hitungan detik. Lampu (lighting) tidak harus dimatikan. Pergantian adegan keluar masuk wing kiri dan wing kanan pentas demikian cepat, seakan bukan pergantian adegan.
Sebelumnya pergelaran tari Minang yang penanggungjawabnya juga sama, yakni Dr. Nurwani, penarinya ssemuanya para mahasiswa dari jurusan tari dan seni pertunjukan UNIMED, bukan dari Tigo Sapilin.
Kali inilah, penontonnya, jauh lebih disiplin.
Dalam sebuah pergelaran seni, begitu adegan dimulai tidak diperbolehkan penton bergerak apalagi berbicara ke kiri kanan. Bagaimana tidak, Martozet selaku koreografer, mampu menahan pentonnya untuk tidak berkedip, menyaksikan gerak tari yang sangat dinamis.
Pertunjukan lebih kurang 30 menit, terasa sangat singkat, seperti hanya 20 menit. Semua penari (Sembilang orang, salah satunya wanita), tak terasa pertunjukan usai, karena Martozet menutup tarinya, pada saat klimaks ending.
Sangat dipujikan stamina penarinya demikian terjaga. Nafas para penari bisa diatur s jalan s Ngan gerak tari. Sayang dari kesembilan penari, dari awal sampai akhir, tak seorangpun yang tersenyum. Semua berwajah serius, seakan tegang. Padal para penari tidak lagi menghitung langkah.
“Selaku Ketua BM3, saya salut pada pertunjukan ini. Saya berharap seni tari khas Minangkabau akan berkembang semakin baik di Medan. Alih generasi harus ada,” kata Farianda Putra Sinik yang duduk di kursi paling belakang.
Ketika dikejar saat buru buru menaiki mobil hitamnya Farianda Putra Sinik, mengatakan; Pokoknya aku salut pertunjukan ini. Kalau ada lagi, tolong kabari saya.
(Idp)

More Stories
Dr Dimas Sofani Lubis: Selalu Ada Hikmah Dibalik Bencana
Terungkap di Reses Robi Barus, Banyak Warga Perumnas Helvetia Tanam Bunga dan Parkir di Badan Jalan
Hadi Suhendra Minta Ramadan Fair Digelar di Belawan