DataSumut.com – Medan
Satu pertunjukan seni, memenuhi program Indonesiana, padat pengunjung di Taman Budaya Medan, (6/5/2026) malam. Bertajuk Batang Patah di Tanah Ranau. Kisah perantau orang orang Minang merantau dari kampung halaman ke Medan, dengan segala tantangannya.
Dalam pertunjukan, ada gambaran beberapa kalimat Minang yang dimasuki bahasa serapan orang Medan. Jadilah bahasa Minang-Medan.
Pertunjukan yang sarat dengan musik nyanyi dan Randai, namun sudah memakai keyboard, juga drum, memperlihatkan kolaborasi alat musik pentatonik dan diatobik menyatu. Sebuah garapan musik yang baik dan rapi. Musik itulah yang mengiringi gerak gerak randai di atas pentas presinium.
Penataan lampu cukup baik, terutama dalam pertukaran adegan demi adegan dalam iringan musik yang dimainkan anak-anak dari kelompok Tigo Sapilin.
Sangat disayangkan, pertunjukan tari, nyanyi yang berpadu pada gerak gerak teaterikal, penata sound systemnya, sedikit kurang jeli. Artikulasi kata pecah, sulit ditangkap oleh gendang talingo. Sutradara Frisdo, SSn, MSn., sedikit kurang kontrol.
Padahal latihan di pentas besar itu dilakukan berkali kali. Justru saat general repetitie, kelihatan lebih rapi berbanding saat pertunjukan berlangsung. Sutradara sudah bekerja keras, saat pementasan berlangsung dan lari dari arahan sutradara, itu bukan kesalahan sutradara lagi.
Kita boleh berbangga, Erik Nafarwandi, SSN., MSn, cukup apik menata gerak nan lincah serta rapi. Demikian komposer Chandur, SSn., MSn., mampu mengkomposisikan musik dengan cukup baik. Ada talempong, bansi, tambur, drum keyboard dan musik lainnya menyatu dengan gerak tari dan nyanyi.
Dr. Nururani, SST MHum, cukup berhasil menggelar pertunjukan ini.
Sayang sutradara kurang jeli melakukan observasi keadaan. Panggilan Ucok pada si Tarigan, marga Karo seharusnya Tongat. Karena panggilan Ucok, kepada Batak Toba, bukan Batak Karo. Mungkin maksudnya ada unsur komedi dalam pertunjukan, namun unsur komedi yang diharapkan, tak mampu mengundang tawa.
Para pemain, banyak anggota baru yang perdana naik pentas. Juga tidak memiliki basic teater yang kuat. Kita harus juga memberi acungan jempol kepada para pemain yang masih hijau di atas pentas. Bila mereka terus dibina dengan basic teater yang kuat, tidak mustahil mereka akan jadi pemain yagg handal pada masa depan.
Pertunjukan ini dihadiri juga oleh para tokoh tokoh Minangkabau Medan, antara lain Farianda Putra Sinin yang selain Ketua PWI Sumut, juga Ketua BM3 Sumut.
Menurut Farianda Putra Sinik, pertunjukan seni Minang-Medan ini, perlu dilanjutkan. Terutama ketika Farianda mendengarkan ada lagu Karo, Biring Manggis dinyanyikan
“Lagu ini, satu bukti, orang Minang di Medan benar benar sudah menyatu dengan masyarakat Tempatan,” kata Farianda. Kata Farianda: Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung.
(Idp)

More Stories
Panitia Natal PWI Sumut 2025 Terbentuk
Buka Pameran Lukisan “Iconic Medan”, Rico Waas Berharap Masyarakat Kian Terbuka pada Karya Seni
Besok, Taman Budaya Gelar Pameran Lukisan Asmat Kibo